Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Thursday, September 8, 2011

Saatnya Meraih Untung Investasi Emas


JAKARTA- Harga emas yang melambung berkontribusi besar pada inflasi Agustus (month to month) yang mencapai 0,19% dari total inflasi 0,93%, sedangkan bagi para investor emas, kondisi ini bisa berarti saatnya meraih untung.

Kenaikan harga tersebut dipicu permintaan emas dunia yang terus menanjak, harga emas di Pasar London (Kitco) kemarin ditutup 1.840,29 dolar per "troy once" atau sekitar 559 ribu rupiah per gram pada Kamis (8/9).

"Kalau harga saat beli dibandingkan harga sekarang sudah naik minimal 60%, sekarang saatnya menjual," ujar Juli Ranti (35) seorang investor emas di Jakarta, Jumat (9/9).

Juli mulai berinvestasi emas sejak 2007 lalu dengan membeli emas 22 karat seharga Rp200 ribu rupiah per gram di Unit Logam Mulia ANTAM, Pulogadung, Jakarta.

"Sekarang sudah 350 ribu rupiah per gram," kata Juli, namun ia belum berencana menjual kembali emasnya, "Tunggu sebentar lagi, biar untung," lanjutnya.

Lain halnya dengan Vertica Ahza (39) yang mulai berinvestasi emas sejak mulai bekerja pada 1993.

"Kemarin sebelum Lebaran saya jual, lumayan buat THR," ujarnya di Jakarta, Jumat (9/9).

Tica, panggilan akrabnya, mengaku untung hingga 75 persen dari penjualan tersebut, "Sekarang belum mau beli lagi karena harganya masih tinggi, mungkin juga tidak akan turun, jadi harus rajin mengumpulkan uang buat beli emas," katanya.

Menurut pemilik Toko Emas Murni di Pasar Paseban, Jakarta Pusat, Syarifudin (38), harga beli emas memang sedang tinggi.

"Kalau yang 22 karat saya jual 350 ribu rupiah per gram, tidak bisa kurang lagi, kalau yang 18 karat 230 ribu rupiah per gram," ujarnya.

Sedangkan untuk harga beli, Syarifudin menentukan harga berdasarkan kondisi emas yang akan dijual, "Tergantung kondisi dan modelnya," ujarnya.

Ketentuan tersebut harus dilakukan karena menurut Syarifudin kebanyakan penjual jarang yang menyertakan sertifikat emas.

"Biasanya saya beli seharga 75 persen dari harga jual kalau kondisinya bagus, kalau sudah cacat (pudar atau ternoda) bisa kurang," katanya.

Senada dengan Syarifudin, Tanti (27) penjual emas di Toko Djaya, Pasar Cikini, Jakarta Pusat, juga mematok harga beli sesuai dengan kondisi emas yang akan dijual.

"Ya, sekitar 75% dari harga beli," ujarnya di Jakarta, Kamis (8/9).

Pascalebaran ini, toko-toko emas di Pasar Paseban maupun Pasar Cikini sudah banyak yang buka, namun masih sepi pengunjung.

"Paling ramai ya waktu mau Lebaran kemarin, mungkin akan normal lagi minggu depan," kata Tanti.(ant/hrb)

Jumat, 9 September 2011 | 9:43

Pahami Psikologi Pasar


Memprediksi arah indeks saham di tengah ketidakpastian ekonomi memang sangat sulit. Volatilitas pasar tak hanya dipengaruhi oleh fundamental ekonomi tetapi lebih didominasi oleh psikologi pasar yang terkadang membuat indeks naik tak terduga dan hari berikutnya turun tajam tak terkira.

Ini pula yang terjadi pada perdagangan saham hari-hari belakangan ini. Bursa global anjlok tajam karena kekhawatiran terjadinya resesi dunia yang bersumber dari AS dan Eropa yang tengah dilanda krisis utang. Pengangguran yang tetap tinggi di AS, yakni di level 9,1% pada Agustus 2011 ditambah pertumbuhan ekonomi yang lambat mencemaskan pasar, sehingga investor beramai-ramai melepas sahamnya.

Namun, sentimen itu serta merta berbalik arah menjadi optimisme setelah Presiden Bank Dunia Robert Zoellick meyakini bahwa AS dan Eropa sepertinya tak akan resesi. Bank Dunia menilai progres pemulihan ekonomi di negara-negara itu sudah sesuai arah dan tengah berupaya memperbaiki fiskalnya agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Indeks saham yang bergerak seperti jet coaster itu selintas terlihat aneh.

Tetapi itulah pasar. Paul Krugman, peraih Nobel Ekonomi 2008, mengatakan bahwa perilaku investor global mengikuti isyarat kawanan (run with herd). Perilaku itu disebut herding behaviour yang tak bisa dicermati oleh ilmu keuangan semata, tetapi juga ilmu psikologi yang dapat berperan untuk mengidentifikasi perilaku investasi saat ini.

Sentimen dan ekspektasi sangat mendominasi perilaku investor, sehingga mereka sangat sensitif dalam merespons informasi. Ini pula yang membuat lembaga pemeringkat seperti Standard & Poor’s (S&P), Moodys, dan Fitch berpengaruh besar dalam menciptakan naik turunnya indeks.

Belum lepas dari ingatan kita ketika S&P menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+ yang langsung direspons pasar dengan penurunan indeks sangat tajam. Gara-gara itu, Presdir S&P Seven Sharma mengundurkan diri karena diduga banyak mendapat tekanan. Yang menjadi pertanyaan, sudahkan risiko-risiko global itu lenyap seiring kembalinya optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi?

Sejatinya belum, karena pasar masih menunggu pidato Presiden AS Barack Obama, hari ini, yang akan menyampaikan proposal tentang penciptaan lapangan kerja di AS. Kabarnya, Obama akan meluncurkan program senilai US$ 300 miliar untuk membuka lapangan kerja baru. Jika pidato itu memuaskan pasar, tentunya optimisme akan berlanjut.

Selain itu, pasar masih mengkhawatirkan komitmen Yunani dan Italia dalam mengatasi defisit utangnya lewat berbagai langkah pengetatan. Faktor global memang penuh ketidakpastian. Namun, sentimen dalam negeri cukup positif. Berbagai indikator makro ekonomi, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan juga suku bunga sangat memuaskan. Tak heran, emiten di Indonesia rajin memanen laba. Tahun lalu, laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) rata-rata 44% dan pada semester I- 2011 sekitar 39%.

Yang cukup menggembirakan, pesatnya laju pertumbuhan ekonomi RI yang diprediksi di atas 6,5% tahun ini, belum menyebabkan mesin ekonomi kita kepanasan (overheating), seperti Tiongkok. Sebab, inflasi tetap terjaga di level rendah. Bahkan, untuk momen Puasa dan Lebaran yang merupakan siklus konsumsi tinggi, inflasi bisa dikendalikan di bawah 1%. Melihat indikator dalam negeri, mustinya investor tak perlu panik yang menyebabkan salah dalam mengambil keputusan jual (sell) atau beli (buy). Sebab, jika kita salah mengambil keputusan bisa jadi investasi yang kita benamkan di pasar modal habis begitu saja.

Adam Smith dalam bukunya The Money Game mengatakan, perilaku pasar didorong oleh dua faktor, yaitu fear (ketakutan) dan greed (keserakahan). Kedua faktor itu merupakan variable yang sulit dikontrol dan acapkali melahirkan masalah. Saat pasar sedang bullish, investor beramai-ramai masuk hingga menciptakan bubble (gelumbung kosong). Sebaliknya, saat pasar bearish, investor ketakutan dan akhirnya indeks anjlok sangat dalam, meskipun kinerja emitennya sangat baik. Yang perlu diingat, uang selalu bergerak ke tempat-tempat yang menguntungkan. Investasi portofolio di Indonesia dikenal mampu memberikan return yang tinggi karena ditunjang oleh kinerja emiten yang cukup bagus.

Jadi, tak mustahil krisis AS dan Eropa justru membuat dana-dana asing mengalir makin deras ke sini, apalagi fundamental ekonomi RI cukup solid. Menghadapi volatilitas pasar global yang sangat tajam sebagai dampak ketidakpastian ekonomi, sikap cepat panik harus dibuang jauh-jauh. Selain fundamental emiten, psikologi pasar perlu dipahami agar kita tidak selalu gigit jari dalam berinvestasi di pasar saham.***

Kamis, 8 September 2011 | 10:02
http://www.investor.co.id/tajuk/pahami-psikologi-pasar/19468

Tuesday, September 6, 2011

IHSG kembali akan menguji kisaran support di 3700-3750

Jakarta, Strategydesk - Target dari Head and Shoulder pattern (kisaran 10500-11000) pada indeks Dow Jones Industrial sudah tercapai. Resiko memang masih ada karena penembusan atas suport di 11000 telah membuka potensi penurunan hingga 9800-10000. Meskipun demikian, posisi spekulatif terlihat mulai menarik karena koreksi sudah terjadi lebih dari 15% dari titik puncak. IHSG hari ini kembali akan menguji kisaran suport di 3700-3750. Jika ternyata suport ini gagal bertahan, suport selanjutnya ada di kisaran 3525-3600.
Sementara itu, kinerja bursa regional semakin amburadul sejak pekan lalu sampai dengan minggu ini.
Dimana salah satu penurunan komponen indeks utama di bursa Wall Street, yakni indeks S&P anjlok 17,9%, dari level tertingginya sejak 29 April lalu. Selain itu, indeks Dow Jones makin terpuruk hingga di bawah level psikologi 11.000, ini merupakan kejatuhan harian terbesar sejak krisis financial 2008.
Pasar melakukan “panic selling”, karena kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi AS. Topik perlambatan ekonomi AS kembali menghantui pasar. Kondisi ini diperparah situasi di Eropa yang belum sepenuhnya lepas dari krisis ekonomi.
Kabar intervensi yang dilakukan Jepang pekan lalu tidak memberi banyak support ke pasar. Selain itu, pengumuman ECB yang melakukan pembelian obligasi Italia dan Spanyol, dan pertemuan G-7 melalui saluran telepon mengisyaratkan untuk mengintervensi sebagai upaya menenangkan pasar.
Kondisi di bursa global sepertinya belum banyak berubah, kepanikan masih melanda pasar akan perlambatan ekonomi global.
Data inflasi China dan rapat regular Federal Reserve hari ini akan menjadi perhatia pelaku pasar.

Review IHSG
Tekanan jual masih berlangsung di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengawali perdagangannya di minggu ini, IHSG kembali terperosok sebesar 71 poin.
Aksi jual terjadi sejak dibukanya perdagangan. Sentimen negatif datang dari AS menyusul diturunkannya peringkat kredit negara adi daya tersebut. Penurunan peringkat yang dilakakukan oleh S&P tersebut kemudian menyeret penurunan bursa-bursa regional lainnya.
Aksi bargain hunting sempat menahan kejatuhan indeks, namun aksi tersebut masih gagal membawa IHSG untuk masuk ke zona hijau.
Dana asing pun kembali keluar dari bursa, transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 1,136 triliun di seluruh pasar.
Menutup perdagangan, Senin (8/8/2011), IHSG terkoreksi 71,377 poin (1,83%) ke level 3.850,266. Sementara Indeks LQ 45 terpangkas 11,347 poin (1,64%) ke level 681,946.
Saham-saham yang turun antara lain Delta Jakarta (DLTA), Schering Plough (SCPI), Astra Internasional (ASII), dan Gudang Garam (GGRM).
Sementara saham-saham yang naik diantaranya Multibreeder (MBAI), Indocement (INTP), Astra Agro (AALI), dan Mayora (MYOR).

Ulasan Teknikal IHSG



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah. Meski begitu, IHSG mampu mempertahankan support-nya di area 3.700, dan masih ditutup di atas trend line jangka menengah. Sementara pola hammer yang terbentuk bisa memberi potensi rebound bagi IHS, meski indikator RSI dan stochastic masih memperlihatkan sinyal negatif. Resistance IHSG saat ini berada di 3.920. Jika level tersebut mampu dipertahankan, maka rebound bisa berlanjut menuju area 4.000. Sedangkan penutupan IHSG di bawah level 3.813 akan kembali membawa fokus penurunan IHSG untuk menjemput support-nya di 3.700. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 3.800 – 3.920.

R3 4,148
R2 4,034
R1 3,942

Pivot 3,829

S1 3,736
S2 3,623
S3 3,530

Stock Pick BMRI



Pola hammer yang terbentuk pada candlestick bisa menjadi indikasi rebound bagi BMRI setelah harga mampu mempertahankan support-nya di 6.700. Indikator RSI masih negatif, namun stochastic sudah oversold dan berpeluang golden cross. Saat ini harga telah berada kembali di atas FR 61.8% dan mempunyai potensi rebound untuk mengisi gap di area 7.600 – 7.700. Kondisi (rebound) tersebut bisa diraih, dengan syarat support yang berada di 7.100 mampu dipertahankan.
Rekomendasi : Buy, stop loss breakout 7.100, target 7.600 – 7.700
Support : 7.100, 6.700
Resistance : 7.500, 7.700

MYOR



Masih berada dalam garis uptrend channel dan MA 55, menunjukkan bahwa secara trend MYOR masih bullish. Indikator RSI yang mulai bergerak uptrend, serta peluang golden cross pada stochastic bisa memberikan dukungan bullish continuation bagi MYOR. Saat ini harga masih tertahan di resistance channel di 15.250. Konfirmasi bullish selanjutnya akan didapat jika resistance tersebut ditembus, untuk target bullish selanjutnya di area 17.400.
Rekomendasi : Buy break 15.250, stop loss 14.800, target 17.000
Support : 14.650, 13.500
Resistance : 16.000, 17.400

Rekomendasi Stock Screener



Oleh: Nanang Wahyudin